Manusia Baru Make 10% Otaknya, gimana kalo 100%?
Hello,
guys.. Bagi lo yang suka nonton, udah nonton film Lucy belum? Film
yang baru rilis Juli 2014 lalu dibintangi Morgan Freeman dan Scarlett
Johansson. Kalo belum nonton, lo bisa liat trailer-nya nih.
Jadi di film ini diceritakan Scarlett berubah jadi super pinter,
bisa belajar satu hal dengan super cepat, tau super banyak hal, super
jago bela diri, sampe punya super power, kayak kemampuan telekinesis,
menghentikan waktu, dsb.
Secara film, menurut gw pribadi nih,
it's just another action-science fiction movie. Lumayanlah buat
entertainment ngisi waktu luang. Apalagi kalo lo suka mantengin si seksi Scarlett beraksi di film
action 
Tapi, nih film bikin gw geregetan dan
facepalm. Apalagi kalo lo ngefans sama Morgan Freeman plus tau sains juga. Lah emangnya kenapa?
Keseluruhan plot film ini berdasarkan pada premis bahwa kita baru
make 10% dari total kapasitas otak kita. Dugaan gua
sih cukup banyak dari yang baca tulisan ini juga masih percaya dengan
premis ini. Beberapa diantara lo juga mungkin ada yang baru aja nonton
Lucy, kemudian terbuai untuk berangan-angan kemampuan apa aja yang bisa
lo dapetin kalo lo bisa make lebih dari 10% otak lo.
Well, for the sake of science I've to say : "That's total nonsense!"
Lo tau ga sih kalo premis “rata-rata manusia hanya
menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” itu adalah salah satu
miskonsepsi terbesar dalam Biologi, khususnya tentang otak.
Sangat keliru, tapi sangat populer. Entah kenapa otak sering banget
jadi kambing hitam yang dikelilingi dengan banyak mitos, pseudoscience,
dan miskonsepsi. Btw lo juga bisa lihat pembedahan zenius sebelumnya
yang berkaitan tentang otak di artikel yang membahas tentang miskonsepsi
otak kanan-kiri dan
aktivasi otak tengah. Tapi gimana ceritanya kalo “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya”?
Selama bertahun-tahun, banyak dokter,
neuroscientists, dan
jurnalis sains udah mencoba menerangkan dengan sabar ke siapapun yang
mau mendengarkan bahwa ga ada satu pun basis saintifik untuk mitos otak
10% ini. Tapi mitos ini tetap aja hidup dan populer. Kok bisa sesuatu
yang keliru banget bisa tetap populer begitu? Ayok lah kita bahas aja.
ASAL MULA MITOS OTAK 10%
Semua ini bermula dari misintepretasi temuan sains yang masih kurang lengkap seratus tahun lalu.
Pada awal abad ke-20, peneliti medis yang mempelajari otak binatang dan penderita
stroke menemukan
bahwa bagian otak yang berbeda mengontrol aktivitas yang berbeda pula.
Misalnya bagian otak A ternyata berfungsi pada bagian tubuh tertentu,
misalnya bibir, bagian otak B ternyata berfungsi pada bagian tubuh lain,
misalnya jari kelingking tangan kiri, dsb. Metodenya adalah dengan
mencoba memberikan kejutan listrik ke area otak tertentu untuk memetakan
fungsi dari tiap bagian otak. Jadi mereka mau ngeliat nih, kalo gw
sentrum yang sebelah sini, kira-kira ngaruh ke fungsi atau bagian tubuh
yang mana ya. Oh misalnya, kalo gw kasih kejutan listrik ke
saraf okulomotor di otak, kelopak mata gw bergerak.
Nah, dengan metode seperti itu, para saintis mencoba memetakan fungsi
otak yang disetrum dengan efek rangsangan pada gerakan motorik (gerak)
manusia. Hasilnya? ternyata hanya 10% bagian otak doang yang memberi
respond ketika distimulasi dengan aliran listrik. Sedangkan 90% bagian
otak yang lain, ga ada satu pun otot di tubuh yang bergerak atau
berkedut sedikit
. Saintis pada saat itu melabeli 90% area tersebut sebagai silent cortex karena fungsinya BELUM diketahui. Inget, "belum diketahui" bukan berarti "tidak berfungsi sama sekali" yaah...

Sayangnya,
orang-orang dari ranah non-sains pada saat itu mengira 90% area
tersebut benar-benar dorman (ga aktif) permanen. Di sinilah miskonsepsi
10% otak itu dimulai. Mulai deh tuh premis ini bermunculan di buku-buku
self help, motivasi,
film (salah satunya film Lucy itu), sampe bermunculan juga
program-program peningkat daya guna otak. Salah satu yang terkenal dan
diduga menjadi buku pertama yang menggunakan premis ini adalah buku "
How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie pada tahun 1936. Buku ini jadi salah satu buku
self-development yang
best selling
pula. Tapi yah emang bisa dimaklumi sih karena buku ini ditulis pada
saat sains belum berkembang seperti ini, dan isi dari buku tersebut juga
gak sepenuhnya membahas tentang konteks ini.
Selain itu, bahkan ada juga yang mengaitkan premis otak 10% ini
dengan Albert Einstein., bahwa sebetulnya Einstein yang sejenius itu aja
ternyata cuma menggunakan 10% dari otaknya. Ada juga yang bilang bahwa
Einstein sendiri yang mengatakan hal itu. Entahlah gua juga ga tau juga
kenapa ada klaim ngaco seperti itu. Mungkin karena Albert Einstein
sering dipake sebagai simbol orang jenius, jadi sering dimanfaatkan juga
nama besarnya. Akhirnya sih di tahun 2004, pencarian komprehensif
terhadap arsip Einstein di Institut Teknologi California tidak menemukan
bukti sama sekali kalo Einstein pernah melontarkan premis serupa.
SAINS TERKINI MENJAWAB MISKONSEPSI OTAK 10%
Ingat kah kalian pelajaran Biologi kelas 7 SMP atau kelas 10 SMA
tentang Metode Ilmiah? Di sini kita belajar kalo sains terus berkembang
dan harus selalu terbuka untuk difalsifikasi (dipatahkan) jika ada bukti
dan data-data terbaru yang ditemukan atau dengan pemahaman baru yang
lebih komprehensif. Jadi sains harusnya memiliki sifat
auto-critic atau harus selalu bisa mengevaluasi kembali pemahamannya.
Nah, hal yang sama juga harusnya berlaku untuk setiap fenomena yang
diklaim oleh saintis, termasuk penelitian tentang otak 100 tahun yang
lalu. Peneliti otak jaman sekarang udah punya peralatan yang
lebih canggih sehingga bisa mengambil kesimpulan yang jauh lebih tepat
tentang pemetaan fungsi otak terhadap akvitias tubuh manusia. Untuk
mengamati fungsi otak, kita udah punya fMRI, CT Scan, dan PET Scan, EEG,
dsb yang hasilnya bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan
sangat presisi di komputer. Pastinya beda banget sama jaman 100 tahun
yang lalu, peralatan saintis kala itu cuma berupa jepit elektroda yang
cuma bisa kasih kejutan listrik doang.
Dengan alat canggih yang kita punya sekarang, kita bisa mengobservasi
aktivitas virtual otak (ga cuma aktivitas fisiknya aja), misalnya
gelombang otak atau hormon-hormon yang bereaksi di otak. Keempat alat di
atas bisa ngebantu para peneliti dan pekerja medis untuk mengetahui
secara jauuuh lebih akurat bagian otak mana yang mengontrol kegiatan
tertentu.
Nah, dengan alat-alat canggih ini juga ditemukan bahwa ga ada tuh bagian otak yang dorman. 90% silent cortex itu juga punya fungsi, yaitu pusat kontrol kognitif manusia, seperti kemampuan berpikir dan menggunakan bahasa.
Ya pantas aja kalo 90% diberi sengatan listrik ga bikin satu pun otot
di tubuh kita berkedut, toh fungsinya bukan buat motorik (gerak), tapi
lebih ke fungsi yang tidak bisa diobservasi dengan kasat mata, seperti
fungsi untuk bisa berpikir secara logis, untuk memahami bahasa verbal,
atau untuk menangkap emosi orang lain. Yang begituan ya mana mungkin ke-
detect sama alat eksperimen jaman dulu, yang cuma bisa melihat hasil stimulasi yang bersifat motorik (gerak) doang.
Memang benar kalo bagian otak yang berbeda memiliki fungsi yang
berbeda pula, dan ga semuanya bekerja dalam waktu yang bersamaan. Namun,
hasil scan otak selama periode 24 jam, menunjukkan bahwa seluruh bagian
otak kita pasti kepake dan terus aktif dalam satu hari. Pas lo lagi
bengong dan
nothing to do juga, otak lo masih bekerja. Bahkan saat lo tidur, bagian seperti
frontal cortex, yang mengontrol kemampuan berpikir,
self-awareness, dan
somatosensory masih aktif. Makanya kalo lo tidur, lo bisa kebangun kalo dipanggil Mama buat disuruh beli belanjaan di Minimarket :p
Lagipula, kalo benar manusia selama ini bisa
fine-fine aja
dengan menggunakan 10% otaknya, berarti 90% nya dorman sia-sia gitu?
Menggunakan perspektif evolusi, ini ga efisien banget. Otak itu
konsumtif banget dalam penggunaan energi tubuh. Walaupun berat otak cuma
5% dibandingkan total berat tubuh kita, organ ini mengkonsumsi hingga
20% suplai oksigen dan glukosa dalam tubuh.
Ngapain kita
mempertahankan 90% bagian otak lain selama ribuan tahun evolusi kalo
emang tanpa itu kita masih bisa beraktivitas dengan baik? Kenapa ga “dihilangin” aja?
Kenyataannya, kalo manusia cuma menggunakan 10% otaknya, kita akan
rentan banget dengan kelainan otak. Ga ada satu pun area di otak yang
kalo di-nonaktif-kan ga akan menimbulkan efek yang fatal. 90% dari otak
ga aktif itu udah sama kali kayak orang koma. Kenyataan lo lagi baca
tulisan gw sekarang adalah bukti kalo otak lo masih bisa bekerja 100%
kok. Kalo ada 1% aja otak lo ada yang gak berfungsi, mungkin lo udah
lumpuh atau sekarat, hehe..
KENAPA MITOS OTAK 10% MASIH POPULER?
Meskipun kini pengetahuan sains makin
advanced, udah ada data-data dan pemaparan logika yang mematahkan mitos ini, tapi kenapa ya kok mitos ini masih populer aja?
Premis “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya”
seakan-akan memberikan pengharapan bahwa kita bisa lebih dari kita
sekarang ini. Harapan kalo ada suatu jalan untuk mengembangkan potensi
kita lebih jauh dari yang sekarang.
People love fairy tale. Lo mungkin masih sering tergoda untuk berangan-angan, “
Mungkin ga ya laba-laba di film Spiderman itu nyata?”, “
Beneran ga sih kalo gw kena sinar radioaktif, gw bisa jadi mutan kayak di X-Men?”, atau “
Seandainya gw bisa maksimalin otak gw 100%, gw bisa masuk Harvard kali ya”
Premis “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” memberi kita harapan kalo
there’s so much more to unlock. Coba lo bayangkan kalo ada motivator atau
sales program otak yang menawarkan ke lo, “
Dengan
mengikuti training aktivasi otak 90% kami, hanya dengan biaya 3 juta
rupiah, dalam waktu 2 bulan, kamu akan dapat nilai rapor 100 semua,
lulus SBMPTN, menguasai 5 bahasa, dan sebagainya dan sebagainya..”
Kesannya mungkin konyol buat lo yang udah tau tentang miskonsepsi
ini. Tapi bagi yang belum tau atau males nyari tau, ya bisa jadi itu
tawaran yang sangat menggoda. Entah kenapa, banyak orang yang selalu
tergoda untuk mendongkrak kemampuan kita dengan jalan pintas, apalagi
kalau udah dibumbui bau sains, wah makin yakin aja tuh. Padahal yang
bersangkutan sebetulnya belum bisa ngebedain yang sains beneran sama
yang cuma pseudosains. (pseudosains: sok-sok pake istilah sains padahal
ngaco secara sains)
Hal yang membuat miris adalah, banyak pseudosains dijual
untuk mendatangkan profit. Sebetulnya hal ini gak perlu dikhawatirkan
kalo aja masyarakat mau terus belajar, berpikir kritis, dan selalu
mengkaji pengetahuan yang mereka dapetin. Tapi yah kemalasan masyarakat
inilah mungkin yang membuat kenapa mitos ini tetap hidup dan populer. Bahkan terus direpetisi hingga menjadi bagian dari
urban legend masyarakat kita. Jadinya ketika satu premis bisa mendatangkan duit, ya orang males lah menerima temuan baru atau mengubah
belief-nya kalo malah menutup sumber duit mereka :p
Tapi tentu ada cara kan buat mengembangkan potensi kita? Ya tentu ada
lah. Tapi mau potensi lo seperti sekarang vs. potensi lo nanti yang
udah lebih berkembang , sama aja lo tetap menggunakan otak lo secara
100%. Potensi yang dimiliki Bill Gates dan potensi yang dimiliki gw
sama-sama berdasar dari penggunaan otak secara 100%.
Trus gimana cara mengembangkan potensi kita? Ya kembali lagi seperti yang udah sering Zenius koar-koarin. Potensi dan
achievement itu adalah resultan dari kerja keras dan semangat lo dalam meraih impian lo. Ga ada yang namanya
shortcut. Mau lulus SBMPTN? Ya belajar kontinu dan efektif. Mau jago menggambar atau bela diri? Ya terus latihan dan evaluasi.
Lo bisa lanjut baca
cerita Bahri yang gagal SBMPTN tahun lalu, tapi tahun ini berhasil masuk PTN impiannya, atau
cerita Kinan yang bisa kuliah sampe ke Jepang, atau
cerita para pelajar finalis Google Science Fair 2014 yang udah jadi penemu di umur remaja, atau
cerita Glenn yang berhasil memoles kemampuan gambarnya dari so-so jadi keren banget. Tuh kan, udah banyak banget Zenius beberin.

Jadi sekarang kalo ntar masih ada teman lo yang masih percaya dengan
mitos otak 10% ini, lo bisa jelasin kalo itu cuma miskonsepsi. Fakta
bahwa mitos ini masih populer justru bukti bahwa manusia sepertinya baru
mengerti 10% tentang otak kita.
Stay Awesome, Stay Critical!
Sumber : https://www.zenius.net/blog/4984/otak-10-persen-manusia-mitos-miskonsepsi-debunk